Batas

Tadi siang ada temen kantor curhat lewat chat. Katanya kerja di kantor ini cape banget, susah ketemu keluarga, teman-teman, dll. Gw sangat mengerti keadaan dia secara gw sendiri kerja di kantor yang sama. Kerjaan kami ini menuntut untuk siap dikirim ke mana saja kapan saja dengan durasi yang bisa berapa lama saja. Temen gw merasa ini menghadapi ini sulit banget karena membuat dia (dan sebenernya juga gw) sulit ketemu orang-orang yang dianggap penting, e.g. teman dan keluarga.

Teman gw mulai berpikir untuk resign dengan segala alasan yang mulai muncul. Kemudian gw bilang, kalau udah cape, kalau emang udah ga tahan, mungkin menyerah alias resign bisa menjadi opsi yang paling optimal. Kalau memanng lu anggap ini sudah di luar batas, ya udah daripada nyiksa.

Temen gw pun mulai bingung. Yah sudah dari jaman dinosaurus, salah satu dilema manusia yang paling sulit adalah: haruskah gw jalan terus atau harus kah gw menyerah sekarang?

Temen gw pun nanya: tapi batasan itu kan kita sendiri yang bikin? Kita sendiri yang nentuin batas kemampuan kita? Masa ga bisa sih gw ‘meningkatkan’ batas gw?

Dan gw pun menjawab “memang semua batas itu ciptaan manusia.”

//

Batas?

Sejak kapan Tuhan bikin batas? Semua batas yang ada ini hampir semuanya buatan manusia!

Bayangkan, betapa manusia membatas-batasi dirinya. Betapa manusia membeda-bedakan segala hal di dunia ini. Betapa manusia begitu tergila-gila dengan definisi, membedakan satu hal dengan lainnya. Batas negara bukan buatan Tuhan! Batas-batas ini memang kita yang buat!

Laut dan daratan tidak punya batas yang jelas. Pantai yang ada di antaranya bisa pasang bisa surut, bahkan daratan bisa tererosi, dan dari laut pun bisa muncul daratan baru!

Langit dan bumi pun tidak ada batas yang jelas! Horizon? Itu ciptaan manusia! Pernahkah kalian mengejar horizon ketika sedang di laut? Tidak akan bisa disentuh, tidak ada baunya, semua itu rekaan manusia!

Bayangkan betapa batas-batas ini telah membunuh kita sendiri, memberikan konflik yang tidak perlu.
Yang kulit putih dan yang kulit hitam. Yang agama itu dengan agama ini. Yang raja dan rakyat jelata. Yang barat dan yang timur.
Di mata Tuhan, kita semua sama!

Betapa batas-batas ini membuat kita merasa kerdil.
Si bodoh yang melihat si pintar. Si tertinggal yang melihat yang serba kebarat-baratan. Yang di bawah melihat yang di atas. Yang kaya dan yang miskin. Di mata Tuhan, kita semua sama!

Entah sejak kapan manusia senang membatasi dirinya. Senang memberi definisi terhadap hal-hal. Memberikan perbedaan satu hal dengan lainnya.

//

Jadi kesimpulannya: yes, you create your own limitations. You create your own boundaries. Perhaps it is our nature, human beings, to differentiate things.

So yeah: kita sendiri yang tahu batas kemampuan kita. Kenapa? Karena kita sendiri yang membuat batas-batas dalam diri kita, bukan orang lain, dan bukan Tuhan. Batasan itu buatan kita sendiri.

Jadi kalau kita bertanya “apakah ini sudah di luar batas?”
Mungkin pertanyaan itu hanya kita sendiri yang bisa jawab.

//

Ah batas,

Apakah benar manusia senang membuat batas?

Rasanya ketika kita masih kecil, kita tidak membatasi siapa yang kita cintai. We gave smile to everyone we met and asked all the people to play with us.

We just naturally loved everyone, didn’t we?


Motif-motif Pembunuhan (#1)

Sudah tiga tahun membaca novel detektif, gw menemukan bahwa motif-motif Pelaku selalu itu-itu aja untuk membunuh si Korban—atau melakukan tindakan kriminal lainnya. Anehnya, walaupun itu-itu aja, gw tetep aja baca. Kenapa? Karena dari setiap kasus selalu ada hal baru yang gw pelajari tentang hidup.

Well, setelah baca beberapa novel detektif, gw menemukan bahwa dalam kasus pembunuhan, si Pelaku selalu punya satu atau kombinasi dari dua motif utama—Cinta atau Uang. Dan yang menarik: Cinta adalah motif yang paling kuat bagi si Pelaku untuk membunuh! Dan, kalau motifnya Uang, hampir 80%-nya adalah uang warisan!

Baru hal ini aja udah memberikan gw dua pelajaran hidup yang sangat menarik: cinta terhadap sesuatu membuat lo berani melakukan apa saja—termasuk bunuh orang! Kedua, uang warisan tuh se-ber-ba-ha-ya itu loh…

Gw akan sedikit elaborate tentang motif Uang.

Dalam satu kasus yang gw suka, Clara mengalami dua kali percobaan pembunuhan: rem mobil yang blong dan kecelakaan rumah tangga di rumahnya. Ketika dia melapor Hercule Poirot, tepat di saat itu juga Clara hampir tertembak di kepalanya! Untung saja meleset!

Hercule Poirot pun akhirnya bersedia menjaga Clara in case terjadi percobaan pembunuhan lagi. Karena takut, Clara yang tinggal di rumahnya hanya bersama pembantu pun mengundang Cecil, sepupu Clara, untuk tinggal di rumahnya beberapa lama.

Singkat cerita, ketika sedang ada pesta kembang api, Cecil yang ketika itu sedang menggunakan scarf milik Clara dibunuh dengan belati di punggungnya! Si Pembunuh salah mengira Clara dengan Cecil!

Cerita pun semakin menjadi drama dengan adanya percobaan pembunuhan lainnya sampai akhirnya Hercule Poirot sampai pada kesimpulan: Percobaan pembunuhan pada Clara ternyata dilakukan oleh Clara sendiri!

Clara berpura-pura ‘hampir dibunuh’ sampai tiga kali supaya ketika dia membunuh Cecil akan dikira sebagai ‘salah bunuh’!

Clara membunuh sepupunya sendiri! Dia menyiapkan semua skenario-nya supaya dia bersih dari tuduhan apapun!

Akhir cerita, ternyata Clara mengincar harta warisan dari suami Cecil yang baru meninggal dari kecelakaan pesawat. Cecil dengan suaminya Antoni yang kaya raya menikah secara diam-diam, dan Clara berencana untuk mengaku bahwa dirinya lah yang menikahi Antoni, bukan Cecil. Bagaimana bisa? Karena mereka punya inisial dan nama keluarga yang sama!

//

Background Clara adalah anak orang kaya. Ketika kedua orang tuanya meninggal, Clara tidak punya apa-apa lagi. Semua dijual kecual rumahnya yang mewah—yang saat itu sudah usang dan tidak terawat. Ia pun melihat warisan dari suami Cecil sebagai ‘penyelamat gaya hidup’ untuk kembali ke kehidupannya yang dulu.

//

Dari sini—dan dari kasus-kasus lain yang berhubungan dengan warisan—gw belajar bahwa warisan itu se-ber-ba-ha-ya itu. Warisan adalah ‘uang kaget’ yang diterima keluarga yang ditinggalkan. Masalahnya, warisan datang tiba-tiba dan muncul dalam jumlah besar. Beberapa orang yang desperately need money akan berjuang habis-habisan untuk mendapatkannya. Karena mungkin, selain dari warisan ini, dia tidak akan mendapatkan uang lagi dalam jumlah besar—dan dalam waktu singkat.

Hidup ini seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. Ketika kita sedang di atas dan datang warisan, mungkin kita biasa saja. Tapi ketika kita sedang di bawah dan warisan muncul… well, who knows what will happen?

Cerita-cerita novel seperti ini membuat gw berpikir untuk harus dapat mandiri, tidak terus bergantung pada orang tua. Dan mengingatkan gw sendiri untuk terus menjaga hubungan yang baik dengan keluarga—kakak, adik, dan semua keluarga besar.

Apalah artinya uang kalau tidak bisa kita nikmati dengan orang-orang yang kita cintai?


mau maju

emang nulis tu kayanya enaknya pas lagi bingung ya jadi kita kaya mau ‘buang pikiran’ terus jadilah komputer ini kloset buat pikiran.

jadi intinya gw mikir: ini banyak amat gitu ya temen-temen pengen bawa indonesia maju. apalagi temen2 yang kuliah atau kerja di luar negeri. apalagi kalau luar negerinya eropa2 barat atau amerika utara atau asia timur.

terus gw jadi mikir aja sih. yang bilang indonesia ini bisa maju, sebenernya indonesia ini apa sih? siapa aja? berapa orang? apa gitu definisi indonesia teh aduh bingung perasaan ey. terus indonesia yang lu maksud sama yang gw maksud sama ga sih?

terus yang bilang pengen maju tuh, maju kemana ya? maju tuh kemana gitu kalau gw liatnya ke belakang, maju tu ya kesana tapi kalau liatnya kesana ya maju tuh kesana gitu jadi maju teh apa sih? kemana? terus kenapa kita harus maju? jadi opo sing njenengan maksud iku?

ya gitu aja lah uda ah cape


LAST WORDS FOR HMS-ITB

1.      PROLOG

Sejak dilantik pada 8 November 2009 dini hari, genap sudah, terhitung tanggal perubahan status saya menjadi nonhimpunan, 2 tahun 11 bulan 3 hari saya menjadi anggota HMS-ITB. Banyak sekali ilmu yang saya dapatkan dari himpunan yang beranggotakan sekitar 500 anggota setiap tahunnya. Sungguh ilmu-ilmu tersebut akan terus mengendap dalam otak saya sampai mati, dan semoga ilmu-ilmu itu semua dapat diteruskan ke anak cucu kita sehingga umat manusia akan terus berkembang seiring berjalannya waktu.

 

Dalam kesempatan ini, saya hendak untuk mencoba menceritakan, secara detail dan sespesifik mungkin, apa yang saya dapatkan dari HMS-ITB dan apa yang saya rasa perlu ditingkatkan dari HMS-ITB itu sendiri. Ini agar HMS-ITB dan anggotanya mendapatkan nilai tambah dari lulusnya seorang anggotanya. Tidak melulu kelulusan anggotaya hanya dirayakan dengan pesta atau senandung lagu-lagu bernada sedih atau bahkan dengan kata-kata puitis tanpa efek ke depan. Tulisan ini dibuat agar HMS-ITB dapat terus memberi lebih banyak manfaat kepada anggotanya, kepada ITB, kepada Bandung & Jawa Barat, kepada Indonesia, dan bahkan kepada Dunia.

 

Kata-kata terakhir ini merupakan suatu opini murni berdasarkan pengalaman—bukan sesuatu yang eksak dan dapat dibuktikan benar/salahnya secara akdemis. Subjektif, tidak objektif.  Mohon maaf bila kosakata yang digunakan terlalu kasar atau, sebaliknya, terlalu memuji-muji. Tulisan ini dibuat sedemikian rupa agar pembaca bisa merasakan emosi penulis. Bukan BP atau BPA atau anggota HMS-ITB yang saya sebutkan di sini. Ini adalah HMS-ITB secara keseleuruhan. Bila Anda merasa bagian dari HMS-ITB, apa pun peran Anda, mungkin Anda termasuk dalam pembahasan saya.

 

2.      APA YANG PERLU DITINGKATKAN

Lama di HMS-ITB dan sempat pula menjadi badan pengurus di dalamnya membuat saya dapat melihat HMS-ITB dengan pandangan lebih lebar. Berikut kira-kira apa yang saya rasakan perlu ditingkatkan dari HMS-ITB:

 

1.      Gerakan eksternal

Entah sejak kapan, gerakan HMS-ITB cenderung fokus ke internal dengan manifestasi berupa perayaan wisuda, kaderisasi, pemilu, Musyawarah Anggota, dan formas dengan berbagai pembahasan internal. Jikalau ada anggotanya pun yang aktif atau bahkan meraih penghargaan di luar HMS-ITB, itu hanya akan sekadar menjadi pengetahuan—walaupun sudah sedikit lebih baik dengan dituliskannya nama anggota yang aktif di luar dengan adanya IP (Informasi Prestasi HMS) di depan ruang 3202.

 

Tumpulnya gerakan eksternal HMS-ITB diperparah dengan tidak adanya andil HMS-ITB di banyak kegiatan FKMTSI. Kegiatan akbar FKMTSI yang diselenggarakan di 2011 tidak banyak melibatkan anggota HMS-ITB. Mereka dari HMS-ITB yang datang kebayanyakan memang staf Departemen Hublu. Bahkan masih banyak anggota HMS-ITB yang bahkan tidak tahu apa itu FKMTSI.

 

Terlebih, eksternal HMS-ITB selalu diasosiasikan hanya dengan KM-ITB dan Rektorat (dalam hal ini Prodi Teknik Sipil). Rasanya tidak ada lagi organisasi luar HMS-ITB yang dianggap bersentuhan langsung dengan HMS-ITB.

 

Walaupun hanya KM-ITB, namun masih banyak sekali kegiatan-kegiatan yang terjadi di KM-ITB yang tidak mendapat sambutan yang baik dari HMS-ITB. Kalaupun ada sambutan, itu biasanya hanya dari, sekali lagi, staf Departemen Hublu. Kegiatan KM-ITB yang mendapat sambutan dari HMS-ITB secara ‘de facto’ biasanya hanya OSKM dan Olimpiade KM-ITB (mungkin ada yang lain tapi sejauh ini hanya itu yang saya lihat). Anggota HMS-ITB yang sangat aktif di KM-ITB pun tidak mendapat banyak apresiasi atau perhatian dari HMS-ITB secara organisasi. Banyak ‘tokoh’ KM-ITB yang tidak mendapat apresiasi lebih dari HMS-ITB yang saya lihat selama saya di HMS-ITB: ketua IEC 2010, ketua IEC 2011, ketua PSB 2011, menteri-menteri di Kabinet KM-ITB 2011/2012, ketua-ketua UKM, dan masih banyak lagi. Baru ketika ada calon Presiden KM-ITB 2012/2013, HMS-ITB memberikan perhatian lebih, walaupun masih terhitung kecil, dengan meminta sang calon memberikan presentasi tentang visi-misi yang akan dibawakan. Itu saja, tidak lebih. Apakah harus sampai ada calon Presiden KM-ITB baru HMS-ITB akan ‘tergerak’?

 

Masih banyak lagi contoh tumpulnya pandangan HMS-ITB terhadap dunia luar. Gempa Sumatera Barat 2009, Runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara 2011, dan masih banyak lagi isu-isu nasional yang sangat erat kaitannya dengan teknik sipil namun tidak pernah dibahas. HMS-ITB dirasa ‘dibutuhkan’ oleh masyarakat untuk pemahaman isu. Namun HMS-ITB tidak berbuat banyak ketika itu.

 

Gerakan yang terkait teknik sipil yang mendasar saja tidak dihiraukan, apalagi gerakan-gerakan mahasiswa lain. Dalam gerakan sosial-politik mahasiswa, HMS-ITB tidak pernah secara, sekali lagi, ‘de facto’ memberikan dukungan pada gerakan-gerakan semacam ini. Bahkan untuk gerakan sekelas internal ITB (e.g. aksi jalan mundur mahasiswa ITB menolak kenaikan biaya kuliah di ITB untuk mahasiswa baru pada—kalau tidak salah—2010) HMS-ITB tidak memberikan effort lebih. Termasuk pula ketika jalanan di kota Bandung pada sekitar tahun 2010-2011 berlubang akibat cuaca buruk, HMS-ITB tidak memberikan suara apapun kepada instansi berwenang. Hal ini masih merembet sampai muncul masalah infrastruktur lain di Kota Bandung: terabaikannya perbaikan gorong-gorong di Jalan Merdeka dan terhambatnya pekerjaan pembetonan Jalan Ciumbeleuit. Apakah HMS-ITB menutup matanya dari masalah sosial di sekitarnya? Bahkan yang terkait expertise-nya?

 

Untuk tambahan, ketika Penulis sempat membaca LPJ Badan Pengurus HMS-ITB, gerakan eksternal HMS-ITB sempat hidup di Badan Pengurus HMS-ITB 2008/2009 namun redup kembali setelahnya.

 

2.      Sistem di HMS-ITB

Sistem di HMS-ITB sudah jelas-jelas usang dan kuno. Ketinggalan zaman dan tidak sesuai dengan keadaan. Sistem yang dimaksud di sini tentu saja AD/ART HMS-ITB yang tidak pernah ada amandemen sejak pertama kali disahkan dan bahkan masih tercantum nomor telepon sekretariat HMS-ITB di pojok kanan atas dari AD/ART tersebut—yang sambungannya kini sudah tidak aktif.

 

AD/ART HMS-ITB tidak mengatur tentang keberadaan KM-ITB yang merupakan ‘induk’ dari seluruh organisasi mahasiswa ITB. Yang paling parah, tidak diatur mengenai keberadaan Senator Kongres KM-ITB. Kongres KM-ITB sebagai penentu kebijakan  tertinggi di KM-ITB—yang di dalamnya terdapat HMS-ITB—tidak diatur dalam AD/ART HMS-ITB! Ini sungguh jelas-jelas tidak wajar. Mekanisme pemilihan tentu saja tidak diatur pula.

 

Dalam UU  no.12 tahun 2011 tentang Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia, jelas tercantum tahapan dan kelas setiap peraturan di Indonesia. Namun di HMS-ITB—walaupun skalanya amat jauh lebih kecil dari negara—tidak ada peraturan yang jelas selain AD/ART itu sendiri. Ketetapan-ketetapan lain tidak pernah ada aturannya (e.g. SOP MA, SOP audiensi). Akhrinya segala bentuk kegiatan yang dirasa memerlukan legitimasi massa selalu dibentuk formas, yang jelas-jelas formas ini tidak pernah disebutkan keberadannya dalam AD/ART HMS-ITB.

 

Selain Senator dan Formas, masih banyak lagi ‘dasar hukum’ yang tidak jelas di HMS-ITB. Salah satu di antaranya adalah kata-kata yang rasanya sudah menjadi acuan untuk segala bentuk kegiatan di HMS: arah gerak. Apa pula ini arah gerak? Apa perbedaannya arah gerak dengan tujuan? Selalu disebutkan dengan lantang, bakan saat kaderisasi anggota baru, bahwa arah gerak HMS-ITB ada tiga: Kekeluargaan, Keprofesian, dan Pengabdian Masyarakat. Lalu muncul pembenaran-pembenaran yang sifatnya pembodohan: ini adalah rangkuman dari tiga tujuan HMS-ITB dalam AD/ART. Benarkan begitu? Jika kita tinjau lebih baik, sudah sangat jelas tidak sesuai, terutama dalam tujuan HMS-ITB yang kedua: “Mengusahakan dan memperjuangkan kepentingan anggota dalam bidang studi, keprofesian, kreativitas, dan kesejahteraan.” Sudah sangat jelas bahwa keprofesian hanya satu dari sekian banyak aspek yang diharapkan berkembang dari anggotanya. Apakah kita masih perlu mengedepankan suatu konsep yang tidak jelas dasar hukumnya?

 

Hal lainnya adalah anggota kehormatan HMS-ITB. Dalam AD/ART memang jelas ada status yang bernama anggota kehormatan. Namun sampai sekarang, sampai saya sudah lulus, HMS-ITB yang sudah berusia 58 tahun rasa-rasanya belum memiliki anggota kehormatan (entah tidak ada entah saya yang tidak tahu). Atau mungkin jasa/prestasi yang ada sampai hari ini masih terhitung kecil?

 

Hal lainnya adalah kaderisasi TPB. Hari-hari belakangan kita mengetahui bahwa kaderisasi TPB dibebankan kepada Kabinet KM-ITB melalui Kementrian PSDM. Tapi apakah TPB FTSL bukan merupakan tanggung jawab HMS-ITB? Apakah kita tidak punya tanggung jawab apapun terhadap mereka? Secara dasar hukum, baik AD/ART KM-ITB mau pun AD/ART HMS-ITB, kaderisasi TPB memang tidak dibebankan kepada siapapun, namun, kontradiktif dengan kenyataan di lapangan, RUK KM-ITB menjelaskan bahwa ada karakter yang harus dikejar pada mahasiswa tingkat satu. Lantas siapa yang bertanggung jawab atas kaderisasi TPB?

 

3.      Forum Jenjang Kaderisasi

Sudah sejak lama saya sering dengar di HMS-ITB tentang keberadaan FJK HMS-ITB. Tahapannya adalah kuya-anggota biasa-badan pengurus-swasta. Lalu saya pun mencari-cari dokumen bernama “Forum Jenjang Kaderisasi HMS-ITB” ini. Saya pun tidak mendapatkan dokumen tersebut. Lalu saya mendapat suatu tulisan bebas (seperti tulisan ini) yang membahas mengenai ‘jenjang kaderisasi’ tersebut. Apakah tulisan ini menjadi acuannya? Lalu saya bertanya kepada beberapa senior, namun hasilnya nihil: FJK HMS-ITB sepertinya memang tidak ada. Lalu dari mana muncul istilah FJK HMS-ITB? Saya berpendapat bahwa FJK HMS-ITB ini hanyalah sebuah kesepahaman, suatu kaprah yang ada di HMS-ITB tercinta, seperti layaknya Arah Gerak HMS-ITB.

 

Jenjang kaderisasi memang baiknya diatur. Kapan anggota bertindak sebagai Badan Pengurus, kapan sebagai Anggota Muda, dan lain-lain. Akan lebih baik bila FJK HMS-ITB ini dibuat menjadi sebuah dokumen dan di dalamnya diatur mengenai karakter-karakter yang perlu dicapai dalam organisasi HMS-ITB ini dalam berbagai aspek: sosial, keorganisasian, keprofesian, dan lain-lain.

 

4.      Budaya Keprofesian

Ini adalah suatu keluhan yang saya rasa sudah mulai teratasi. Departemen Keprofesian HMS-ITB ketika saya pertama masuk dengan hari ini sudah jauh berbeda. Hal ini perlu terus dikembangkan.

 

5.      Kelembaman terhadap Perubahan

Dua poin terakhir yang akan saya bahas saya rasa merupakan akar dari segala permasalahan yang muncul di HMS-ITB.

 

Pertama adalah kelembaman akan perubahan. HMS-ITB rasa-rasanya jarang sekali melakukan perubahan, baik dalam tataran konseptual sampai tataran teknis. Sebagai contoh, AD/ART HMS-ITB, seperti sudah dibahas sebelumnya, tidak pernah ada amandemen. Perayaan wisuda juga selalu template. Tidak ada pula kegiatan-kegiatan lain yang menjadi manifestasi terhadap hasil pemikiran-pemikiran kolektif.

 

HMS-ITB, sebenarnya, ingin berubah. Namun ada suatu sifat yang sampai hari ini belum hilang: terlalu perfeksionis. HMS-ITB, misalnya, sudah beberapa kali membahas mengenai kesenatoran dalam forum-forum yang tidak jelas dasar hukumnya (e.g. formas, sosialisasi, forum diskusi). Selalu dalam pembahasan tersebut dibahas bahwa HMS-ITB seharusnya perlu mengubah AD/ART dan memberika senator—walau terkadang ada pro dan kontra dalam diskusi. Terlepas dari itu, pembahasan ini tidak pernah di bawa ke forum yang lebih lanjut. Musyarawah Anggota, misalnya, hanya dilakukan saat mengangkat BPA, Audiensi, dan LPJ. Selebihnya tidak pernah digunakan. Lalu kenapa tidak pernah masalah kesenatoran diangkat ke permukaan? Jawabannya, menurut saya, adalah karena perfeksionisme HMS-ITB yang berlebihan dan terkadang tidak pada tempatnya.

 

Ketika diangkat ke permukaan, tentu saja, permasalahan kesenatoran ini akan mendapat banyak opini, kritik, saran, dan celah-celah. Tentu saja suatu usulan amandemen harus jelas. Namun, bila kita mengejar suatu sistem yang sempurna dalam HMS-ITB, hal itu tidak akan pernah terjadi. Itulah alasan mengapa kesenatoran, AD/ART Sibades, AD/ART Cremona (mungkin ada beberapa massa yang tidak tahu bahwa Cremona memiliki AD/ART sendiri) tidak pernah disahkan oleh BPA.

 

HMS-ITB harus mau berubah. Dan setiap perubahan, setiap pilihan, pasti ada konsekuensinya. Bila HMS-ITB mau berubah, konsekuensinya kita harus siap pula untuk mengikuti suatu sistem yang baru. Dalam studi kasus kesenatoran, mungkin kita harus siap melakukan, misalnya, pemilu untuk memilih senator. Bila HMS-ITB tidak mau berubah, maka jangan menghina/merendahkan kegiatan-kegiatan Kabinet KM-ITB, toh HMS-ITB menolak untuk mengontrolnya melalui Kongres KM-ITB.

 

Terlepas dari itu, masih ada perubahan-perubahan lain yang cukup teknis yang tidak pernah dibuat brekathrough. Beberapa contoh, misalnya, adalah wisuda. Sudah beberapa kali perayaan wisuda selalu template. Tidak pernah terpikirkan untuk membuat wisuda yang berbeda. Tentu berbeda dalam hal positif. Yang dimaksudkan di sini adalah pengembangan. Contoh pengembangan yang mungkin dapat dilakukan adalah, misalnya, pembuatan yel-yel baru. Ini sudah banyak anggota yang merasa perlu, namun sampai hari ini tidak pernah dibuat. Hal lain adalah baju. Sudah banyak sekali anggota yang mengeluhkan, setiap ada acara HMS-ITB selalu ada baju kepanitiaan khusus. Hal ini memang bagus memang, namun bila anggota harus mengeluarkan uang lebih, tentu akan memberatkan lama kelamaan. Bila gratis pun, tentu akan memberatkan panitia pencari sponsor. Sering ada wacana, kenapa HMS-ITB tidak membuat suatu kemeja khsus untuk kegiatan-kegiatan HMS-ITB, seperti kemeja-kemeja milik GEA, HMT-ITB, dan lain-lain.

 

Di atas semua, sekali lagi, hanyalah contoh. Inti dari opini saya adalah: HMS-ITB lembam terhadap perubahan.

 

6.      Pemahaman akan HMS-ITB

Hal ini adalah salah satu faktor juga yang menurus saya paling penting. Agak menarik ketika anggota ditanyakan apa itu HMS-ITB. Jawaban selalu beragam, dan ada beberapa jawaban default yang menjadi andalan. Berikut jawaban default tersebut:

  1. HMS-ITB adalah anggotanya
  2. HMS-ITB adalah komunitas
  3. HMS-ITB adalah organisasi
  4. HMS-ITB yang pasti bukan kantor
  5. HMS-ITB adalah himpunan
  6. HMS-ITB adalah keluarga

Dan beberapa jawaban lainnya.

 

Ada hal yang menarik di sini. Pemahaman akan HMS-ITB ternyata berbeda-beda pada setiap anggota. Bayangkan ketika kita menanyakan kepada seseorang, “Apa itu Indonesia?” dan jawaban yang muncul adalah:

  1. Indonesia adalah rakyatnya
  2. Indonesia adalah komunitas
  3. Indonesia adalah negara kesatuan
  4. Indonesia adalah tanah air yang berada dari Sabang sampai Merauke.

Dan seterusnya.

 

Hal ini menarik untuk dikaji. Mengapa? Karena pemahaman yang berbeda tentu akan membuat kebijakan-kebijakan yang berbeda pula. Bayangkan bila seorang ketua himpunan berpadangan bahwa HMS-ITB adalah suatu organisasi, maka ia akan membuat HMS-ITB maju sesuai dengan tujuan yang tertulis di AD/ARTnya. Lalu ketua himpunan berikutnya menganggap bahwa HMS-ITB adalah keluarga. Tentu yang menjadi sasaran utama kita berhimpun adalah membuat anggota mengenal anggota lainnya satu sama lain. Ini jelas hal yang penting! Sampai sekarang, definisi HMS-ITB masih banyak yang berbeda-beda!

 

Lalu apa itu HMS-ITB yang sebenarnya? Saya lihat dengan jelas di AD/ART kita yang sudah kuno itu, bahwa HMS-ITB adalah organisasi. Dapat dilihat pada pasal 1 Anggaran Dasar yang berbunyi: “Organisasi bernama HIMPUNAN MAHASISWA SIPIL INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG disingkat HMS – ITB.”

 

Apakah di sana tercantum “Keluarga bernama…” atau “Komunitas bernama…” ? Jelas-jelas tidak! Apalagi untuk jawaban default lainnya “HMS-ITB adalah anggotanya,” sudah jelas pada AD/ART tidak tertulis “Anggota yang bernama HIMPUNAN MAHASISWA SIPIL INTSITUT TEKNOLOGI BANDUNG disingkat HMS-ITB.”

 

Apa itu organisasi? Dari KBBI (saya rasa cukup dari KBBI saja) dapat diketahui bahwa organisasi adalah “or·ga·ni·sa·si n 1 kesatuan (susunan dsb) yg terdiri atas bagian-bagian (orang dsb) dl perkumpulan dsb untuk tujuan tertentu; 2 kelompok kerja sama antara orang-orang yg diadakan untuk mencapai tujuan bersama.” Tujuan bersama! Ada suatu tujuan yang sama pada setiap anggota yang membuat mereka berkumpul!

 

Sudah lama saya rasakan, dan mungkin teman-teman sekalian juga, bahwa HMS-ITB ini selalu mengedepankan kekeluargaan—and that’s all. Walaupun sudah jelas-jelas tertulis di AD/ART bahwa HMS-ITB memiliki dua tujuan lainnya, namun selalu yang dikejar adalah tujuan nomor satu. Bahkan Sibades utamanya adalah untuk mendekatkan anggotanya pula.

 

Achieving three different purposes at once is remarkbly difficult. Bayangkan ketika setiap program kerja HMS-ITB dibuat untuk mengejar ketiga tujuannya, bukankah akan menjadi sulit? Contoh yang menarik adalah Sibades. Sibades, menurut saya, selama ini sudah menuju kepada ketiga tujuan HMS—walaupun masih fokus kepada tujuannya HMS yang pertama. Kita berusaha memberikan suatu kontribusi nyata bagi masyarakat. Hal ini membuat kita perlu untuk membangun suatu infrastruktur. Di sisi lain, kita berusaha untuk meningkatkan keprofesian anggota, maka hampir seluruh anggota baru dilibatkan menjadi staf. Bukankah ini hal yang, secara engineering, terlihat tolol? Bayangkan divisi engineering yang paling optimal bekerja dengan, tebakan saya, tiga-empat orang diberikan staf sampai dua puluh orang untuk pekerjaan yang sedikit. Hal ini jelas-jelas menghambat kinerja divisi engineering. Namun menurut saya hal ini sangat baik. Mengapa? Karena kita sedang mengusahakan tujuan HMS yang kedua. Bayangkan bila engineering hanya dikerjakan oleh tiga orang. Apakah kita akan membiarkan hanya tiga orang di satu angkatan saja yang mendapatkan advantage lebih dari HMS-ITB? Tentu tidak! Kita tentu harus memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh anggota HMS. Dan terakhir, bayangkan bila seorang anggota menolak untuk bekerja walaupun alasannya cukup logis. “Sori, Bos, saya ga ngerasa OK di divisi engineering. Silahkan saja kerjakan tugas-tugas kalian, saya di sini ga akan ganggu lagi.” Hal ini tentu tidak akan kita biarkan terjadi. Mengapa? Karena di HMS-ITB kita mengusahakan kekeluargaan pula. Bila seorang anggotanya yang sudah diberikan kesempatan untuk berkarya ternyata bermasalah dengan orang-orang di sekitarnya, tentu akan kita ‘paksa’ untuk tidak ‘pergi’, dan akan kita buat, tentu dengan usaha dari pihak lain pula, agar anggota tersebut nyaman di HMS-ITB dan mendapatkan kekeluargaan di dalamnya. Dan terpenuhilah pula tujuan pertama HMS-ITB. Namun Bayangkan ketika anggota kita sudah saling mengenal, sudah meningkat kemampuan keprofesiannya, namun kita ternyata malah mengacak-acak desa orang. Apakah ini berarti tujuan HMS-ITB sudah terpenuhi melalui Sibades? Tentuk tidak! Kita tetap perlu untuk memberikan kontribusi untuk sekitar kita—seperti tercantum pada tujuan HMS-ITB yang ketiga.

 

Intinya adalah: HMS-ITB ini adalah suatu organisasi dengan tiga tujuan. Ketiga tujuan itu harus sinergis—yang satu tidak lebih utama dari yang lain. Kekeluargaan adalah hal yang perlu diperhatikan, tapi tidak kalah penting dengan dua tujuan HMS-ITB yang lain. HMS-ITB adalah organisasi. Namun, memang organisasi HMS-ITB ini tidak seperti organisasi masyarakat lainnya (e.g. Greenpeace, Bike2Work, KAMMI, NU, ITDP, GIZ). HMS-ITB memiliki karakteristik tersendiri: merupakan organisasi yang seluruh anggotanya adalah mahasiswa sipil ITB. Ini membuatnya menjadi spesial. Seluruh anggotanya adalah teman-teman kuliah, sehingga dengan anggota HMS-ITB terasa seperti keluarga. Tapi toh, pada landasannya, HMS-ITB memiliki tujuannya, tidak melulu menjadi sekadar komunitas tempat berinteraksi.

 

 

3.      APA YANG SAYA DAPATKAN

Banyak orang memberikan pesan-pesan tentang apa yang seharusnya dikembangkan. Hal ini berdampak baik dan juga buruk sekaligus. Karena ketika diberitahu apa yang perlu dikembangkan, manusia terkadang lupa dengan apa yang sudah ada pada dirinya dan, demi mengejar kekurangannya, ia meninggalkan apa yang sudah ada dan menimbulkan kekurangan baru.

 

Saya mencoba komprehensif. Saya akan berusaha menjelaskan pula apa yang saya dapat selama di HMS-ITB. Agar, selain mengejar kekurangannya, HMS-ITB juga tidak lupa dengan kelebihan-kelebihannya.

 

1.      “Latar belakangnya apa?”

Once, this was a very boring question I’ve ever heard in HMS-ITB. Bayangkan, sudah berkali-kali dijelaskan, masih saja yang ditanyakan latar belakang dan latar belakang. Rasanya ini bukan hal penting. Bahkan dalam berbagai buku pelajaran dan paper, latar belakang adalah sesuatu yang sering kita sebut “mengarang bebas”.

 

Ini adalah hal yang pertama saya pelajari selama berada di HMS-ITB dan saya amat bersyukur dapat mendapatkan pelajaran seperti ini. Namun maksud saya di sini bukanlah ‘latar belakang’ dalam arti sesungguhnya. Maksud saya di sini adalah HMS-ITB selalu bergerak berdasarkan dasar yang jelas pula—tidak bergerak karena disuruh atau terbawa arus. Itulah apa yang selalu saya banggakan dari HMS-ITB.

 

HMS-ITB cenderung untuk menimbang-nimbang dengan cermat apa-apa yang akan dikerjakan. Apa-apa saja alasan untuk melakukan sesuatu. Hal ini terkadang (bahkan sering) membuat bosan anggota HMS-ITB. Namun, hasilnya terlihat sangat baik. Mungkin inilah yang membuat HMS-ITB memiliki semacam slogan: “Bos selalu benar.” Ya, slogan ini sangat cocok dengan HMS-ITB karena HMS-ITB memiliki semacam kultur untuk terus-menerus mencermati setiap kemungkinan yang terjadi sehingga setiap tindakannya memiliki alasan yang logis dan membuatnya ‘selalu benar’ dibandingkan yang lain yang tidak pernah mengkaji terlalu dalam.

 

‘Latar belakang’ yang saya maksudkan di sini adalah semacam dasar mengapa kita melakukan sesuatu. Dahulu ketika SD, SMP, SMA, bahkan tingkat 1 (sebelum masuk HMS-ITB), saya mendapati bahwa latar belakang adalah hal yang tidak terlalu penting untuk dicermati. Dan ternyata, saya salah besar.

 

Latar belakang adalah sesuatu yang sangat penting, yang mendasari semua yang kita lakukan. Yang bilamana ternyata tidak tepat, semua hasil usaha kita akan sia-sia. Hal ini pula yang membuat HMS-ITB berpikir kepada hal-hal yang sering tidak terpikirkan dan membuatnya selalu komprehensif dalam membuat keputusan.

 

Akhirnya saya, melalui HMS-ITB, dapat mempelajari apa yang seharunya dipikirkan sebelum melakukan sesuatu. Memikirkannya dengan lebih cermat dengan kepala dingin, memikirkannya dengan alasan yang lebih kuat. Terlebih dari itu, saya jadi jarang untuk melakukan sesuatu karena terbawa arus.

 

Ini adalah hal yang sangat baik. Perlu dipertahankan oleh HMS-ITB dan diteruskan oleh anggotanya. Dalam memahami ini pasti akan terasa sulit karena lulusan SMA cenderung tidak memiliki cara berpikir yang filosofis. Saya pun dalam memahami alasan-alasan filosofis membutuhkan waktu yang lama dan cara yang tidak disukai—seringkali saya mengeluh dan berpikir “Duh HMS nih banyak mikir banget, udah langsung sikat aja lah!

 

2.      Keluarga

Walaupun di atas saya menekankan bahwa HMS-ITB terlalu kaku dengan kekeluargaannya, di sisi lain, ini pun menjadi salah satu kelebihan HMS-ITB.

 

Belum pernah saya mengikuti suatu organisasi, perkumpulan, atau komunitas apa pun yang memaksa saya untuk terus datang, bergabung, dan terlibat aktif dalam suatu kegiatan. Saya sering merasakan dalam beberapa organisasi terdapat orang-orang yang dominan. Sebenarnya begitupun dengan HMS-ITB, terdapat orang-orang yang dominan di dalamnya—walaupun itu muncul secara tidak langsung. Namun yang membedakan, HMS-ITB memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh anggotanya untuk terlibat aktif. Kesempatan terbukan seluas-luasnya, dan terbuka selama anggota belum dinonhimkan.

 

Beberapa contoh kasus. Dalam berorganisasi, sering saya lihat ada anggota baru yang masuk. Kemudian anggota baru itu tidak cocok dengan organisasinya (tidak sesuai ekspektasinya), dan anggota baru itu secara berangsur-angsur menarik diri dan tidak pernah lagi terlibat. Di HMS-ITB sedikit berbeda. Ketika ada anggota baru yang ternyata ‘tidak aktif’ di kegiatan-kegiatan HMS-ITB, ia akan terus ‘ditarik’ untuk ikut terlibat. Apakah melalui angkatannya, melalui BPA, atau melalui departemen di tempat ia mendaftarkan diri. Hal ini pun menjadi suatu pembahasan serius ketika ada anggota yang jarang memuculkan diri. Terlebih, terdapat beberapa kepanitiaan angkatan yang membuat anggota, walau kadang ‘agak terpaksa’, secara tidak sadar akan dekat dengan angkatannya, dan akhirnya dekat dengan HMS.

 

Dapat dilihat pula, hanya himpunan-himpunan di ITB yang berhasil membuat anggota dekat dengan satu sama lain, minimal dengan seangkata sejurusan, bahkan ketika sudah jadi alumni. Himpunan-himpunan mahasiswa lainnya di universitas lain tidak demikian. Beberapa kali saya sempat menanyakan kepada alumni ITB dan dengan alumni non-ITB, hal ini memang benar-benar dikarenakan oleh himpunan mereka selagi kuliah.

 

Saya berani bilang, bila bukan karena HMS-ITB, saya tidak akan sedekat ini dengan teman-teman saya. Bahkan saya mungkin tidak mengenal semua kawan seangkatan saya, apalagi junior atau senior saya.

 

3.      Bantuan perkuliahan

Pasti disadari oleh semua, HMS-ITB memberikan bantuan selama masa perkuliahan. Mungkin yang paling dirasakan oleh semua anggota adalah solusi dan soal UTS/UAS tahun-tahun sebelumnya yang diterbitkan oleh Departemen Akademik HMS-ITB. Hal ini sangat membantu, walaupun saya rasa masih bisa ditingkatkan dengan, misalnya, membuat solusi jawaban ini menjadi buku (seperti buku kumpulan soal-soal & jawaban kalkulus, kimia dasar, dan fisika dasar ketika TPB).

 

Ada hal lain yang, tidak disadari oleh banyak anggota HMS-ITB, lebih bermakna selain soal-soal UTS/UAS. Hal ini, yang saya lihat, ada dua—bantuan bagi mereka yang kesulitan akademik (e.g. terancam drop out) dan bantuan bagi yang memiliki masalah finansial.

 

HMS-ITB sejauh yang saya ketahui selalu me-lobby rektorat agar tidak ada anggotanya yang drop out. Hal ini sangat membantu mereka. Terkadang bantuan pun tidak sekedar lobbying tapi juga bantuan teknis (e.g. mengerjakan tugas-tugas mata kuliah bersangkutan).

 

HMS-ITB juga selalu membantu mereka yang kesulitas secara finansial—tentu begi mereka yang melaporkan. Sudah ada beberapa beasiswa yang diusahakan HMS-ITB, baik kepada alumni, LK, ataupun rektorat.

 

Mungkin selama ini banyak anggota HMS-ITB yang tidak tahu bahwa, selama ini, HMS-ITB sudah sebegitu membantu anggotanya selama perkuliahan.

 

4.      Mengembangkan softskill & network

Ini adalah hal yang bisa didapat di luar HMS-ITB, namun HMS-ITB pun menyediakan kesempatan bagi anggotanya yang ingin mengembangkan softskill dan network mereka—dengan baik.

 

Tidak perlu dibahas terlalu panjang, karena saya rasa pembaca pun sudah mengerti maksud saya dari judulnya. Intinya, karena memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan sesama anggota HMS-ITB (seangkatan, junior, atau senior) dan bahkan alumni dan kawan sejawat di teknik sipil Indonesia, HMS-ITB memberikan peluang bagi mereka yang ingin mengembangkan network dan kemampuan berorganisasi.

 

5.      Ruang berkarya / aktualisasi diri

Mungkin ini poin yang terakhir untuk bagian ini. HMS-ITB memberikan wadah untuk anggotanya mengaktualisasikan dirinya. Terdapat banyak posisi di HMS-ITB yang bisa diisi oleh anggotanya untuk mengaktualisasikan dirinya. Ketua Himpunan, Sekjen BPA, Kepala Departemen, ketua acara / program kerja besar, staff, dan lain-lain. Intinya, di HMS-ITB anggota mendapatkan kesempatan untuk mengeluarkan seluruh pikirannya, emosinya, untuk dimanifestasikan menjadi hal-hal yang sesuai dengan ruangannya untuk berkarya.

 

Misalnya, orang yang memiliki pemikiran bahwa HMS-ITB ini seharusnya dapat disistemkan dengan lebih baik dapat menjadi BPA atau bahkan Sekjen BPA untuk menagtualisasikan dirinya untuk memperbaiki sistem. Orang yang senang menulis, berbagi, dan melakakuan penelitian, dapat mengaktualisasikan dirinya dengan menjadi kontributor di Cremona. Orang yang senang berbagi ilmu, berbagi pengetahuan dan senang menjadi guru dapat mendapatkan informasi tentang asisten dosen dari HMS-ITB, atau bahkan memberikan tutor atau berkontribusi untuk menjawab soal-soal UTS/UAS tahun lalu. Atau orang-orang yang senang mendidik, senang mengkaji masalah-masalah sosial dapat berkontribusi dengan mendesain materi-materi untuk kaderisasi. Mereka yang senang bertindak dan berpikir luas pun disediakan Departemen Hubungan Luar.

 

HMS-ITB ini penuh oleh kesempatan. Bila terus sinergis dengan Prodi, dan lebih sinergis lagi dengan KM-ITB, FKMTSI, dan mungkin bila diusahakan dapat lebih jauh berafiliasi dengan MTI, PII, Dirjen Dikti, Kementrian PU, Perhubungan, atau mungkin AKI, HMS-ITB akan lebih memberikan ruangan yang lebih luas untuk berkarya.

 

 

4.      USULAN-USULAN TEKNIS

Selain dengan apa yang sudah disebutkan di atas, ada beberapa usulan, atau mungkin lebih tepatnya dikatakan ‘buah pemikiran’ dari pengalaman saya selama di HMS-ITB. Ini adalah sekadar usulan teknis. Ada banyak opsi teknis dalam meningkatkan nilai HMS-ITB selain dengan apa yang akan saya sebutkan di bawah ini. Sekali lagi, ini hanyalah pandangan subjektif penulis.

 

1.      Penambahan unsur audio dalam arak-arakan wisuda

Perayaan wisuda, dalam hal ini arak-arakan, di HMS-ITB seringkali diwarnai ‘kebosanan’ ketika suara massa sudah habis. Penambahan unsur audio dirasa akan sangat bermanfaat (e.g. dengan dipikulnya galon aqua, terompet, dan lain-lain).

 

  1. Penataan sekre HMS-ITB yang lebih bersih

Sekre HMS-ITB sebenarnya sudah cukup rapi. Dengan tempat yang seadanya, sekre dapat menampung barang yang banyak. Namun, bila kebersihannya dijaga, sekre HMS-ITB pasti akan lebih nyaman.

 

3.      Ekskursi HMS-ITB ke luar Jawa

HMS-ITB menurut saya sudah terlalu jumawa untuk ‘hanya’ belajar  di Pulau Jawa. Tidak pernah selama saya menjadi anggota HMS-ITB melakukan ekskursi / kulap ke luar Pulau Jawa. Hal ini memang dikarenakan biaya yang mahal, namun, walaupun pembangunan Indonesia terpusat di Pulau Jawa, alangkah lebih baiknya bila HMS-ITB. Pembangunan di luar Pulau Jawa memiliki karakteristik sendiri—keadaan sosial yang berbeda, masalah pengadaan barang yang lebih sulit, SDM yang lebih sedikit, dll.—namun tidak berarti mahasiswa teknik sipil ITB tidak perlu melihat lebih luas. Bila mungkin, anggota HMS-ITB bahkan dapat melakukannya ke luar negeri. Dana saya rasa bukan alasan untuk tidak melakukannya. Coba bayangkan, setiap tahun kita mungkin menelan biaya lebih kurang setengah milyar (walaupun memang didominasi oleh pembangunan Sibades). Namun, setiap tahun hampir tidak pernah muncul masalah biaya. Hal ini berarti dana yang ‘diserap’ dari pihak luar belum optimal. Masih banyak pihak-pihak yang ingin ‘berinvestasi’ di HMS-ITB.

 

4.      Perpustakaan yang lebih baik

Manajemen perpustakan di HMS-ITB agar lebih terurus. Kalau dibebaskan, anggota bisa meminjam dengan mudah namun sulit dalam pengotrolannya. Kalau dikontrol dengan ketat, anggota jadi sulit meminjam. Saya juga agak bingung, namun seharunsya ada mekanisme yang lebih mudah dalam pengaturan.

 

5.      Perhatian terhadap pegawai TU

Dosen cenderung lebih dihargai di HMS-ITB ketimbang pegawai TU. Sebagai orang-orang yang ada di sekitar HMS-ITB dalam keseharian, pegawai TU saya rasa perlu diberikan perhatian lebih. Juga staf teknik sipil lain (e.g. pegawai UKSI, pegawai perpus sipil, dan lain-lain).

 

6.      Yel-yel baru

Saya rasa HMS-ITB memerlukan yel-yel baru untuk menggugah semangat anggotanya, karena yang sudah ada sekarang terasa kurang ‘membakar’.

 

 

5.      EPILOG

Setiap ada satu individu yang keluar dari HMS-ITB, seharusnya HMS-ITB mendapat nilai tambah. Saya selama di HMS-ITB merasa tidak memberikan nilai tambah yang cukup besar dan signifikan. Untuk itulah, sebagai seorang anggota yang sudah lulus dan tidak bisa memberikan kontribusi apa pun lagi kepada HMS-ITB, saya membuat tulisan ini.

 

Semoga HMS-ITB dapat terus maju, memberikan nilai tambah bagi anggotanya, bagi HSM-ITB sendiri, bagi Indonesia, dan bagi dunia.

 

Terima kasih saya ucapkan kepada seluruh massa HMS-ITB, kepada HMS-ITB 2008 Cakarlangit, kepada 2009, 2010, juga seluruh senior yang pernah saya kenal, 2007 ke atas. Terima kasih pula kepada panwis 2010 yang telah memberikan acara wisuda yang menarik.

 

Dengan semangat ayo maju terus! Hidup HMS-ITB!


The Four Obstacles Faced by Them who Chase Their Dream

Meraih cita-cita adalah keinginan semua orang. Dan tentu saja cita-cita tidak diraih dengan mudah – kalau mudah, mungkin namanya bukan cita-cita.

Sempat terbesit dalam benak: mengapa beberapa orang berhasil meraih cita-cita sedang beberapa lainnya tidak? Apa yang membedakan? Semua tidak bisa saya jawab setelah saya menemukan suatu referensi yang menarik – terlepas dari benar/tidaknya, yang pasti menarik – yang berasal dari sebuah buku yang sudah lama saya baca:

The Alchemist.

//

The Alchemist adalah sebuah novel yang ditulis oleh Paulo Coelho, seorang novelis berkebangsaat Brazil. Diterbitkan dalam 56 bahasa yang berbeda, The Alchemist adalah suatu kisah sukses. The Alchemist bercerita tentang seorang pemuda asal Eropa barat yang memiliki suatu mimpi. Buku ini bercerita mengenai bagaimana Diego (kalau ga salah nama tokoh utamanya itu, bukunya sedang dipinjam seorang teman saat saya menulis posting ini jadi ga bisa melihat referensi) mengejar cita-citanya yang mengharuskan dia pergi ke Afrika utara.

Tapi apa yang akan saya coba tulis di blog ini bukanlah tentang isi buku tersebut, melainkan dari bab intoruduction buku tersebut.

//

Jadi, langsung saja kita menuju cerita utama dalam posting ini:

Paulo Coelho menjelaskan mengenai empat masalah utama yang akan dihadapi manusia bila ingin mengejar mimpinya (karena buku yang saya baca dalam bahasa inggris, lebih baik saya kutip langsung tanpa penerjemahan bahasa):

1. “We are told from childhood onward that everything we want to do is impossible.”

2. “Love.”

3. “Fear of the defeats we will meet on the path.”

4. “The fear of realizing the dream for which we fought all our lives.”

Mari kita perjelas satu persatu:

1. “We are told from childhood onward that everything we want to do is impossible.”

Sejak kecil, kita seringkali dijudge bahwa kita tidak bisa meraih cita-cita kita. “Bu, aku mau jadi Presiden Republik Indonesia!” “Ayah, aku mau jadi astronot dan pergi ke bulan!” “Lihat ya, suatu hari aku pasti bisa menjadi seorang dokter yang hebat!” “Suatu hari aku akan punya perusahaan mobil terbesar sedunia!” dan jawaban yang kadangkala kita dengar adalah: “Ah mana mungkin bisa.” “Sudah ga usah mimpi jauh-jauh, urusi dulu tuh PR kamu…” “Ah lo sih mana bisa bikin mobil, IP lo aja ga nyampe 3” dan seterusnya.

Hal-hal ini membuat kita berpikir: bahwa mengejar cita-cita kita yang setinggi langit hanyalah cita-cita – sesuatu yang tidak dapat direalisasikan dan tidak akan pernah jadi kenyataan. Kita jadi berpikir kerdil dan kita akhirnya merasa puas dengan hal-hal sekitar kita yang ada. Kita lupa dengan mimpi kita dan merelakan hal-hal tersebut terkubur dalam di dalam benak.

Bersyukur bagi kalian yang tidak terpengaruh untuk tidak mengejar cita-cita, dan, saya rasa, orang-orang di sekitar saya adalah orang-orang yang tidak ragu untuk mengejar mimpi. Alhamdulillah.

Setelah mendapatkan keberanian untuk mengejar mimpi, hal kedua berikut adalah hal yang akan kita hadapi:

2. “Love.”

Sekilas, saya merasa sangat aneh dengan Paulo Coelho menulis cinta sebagai alasan kita tidak mengejar cita-cita. Bukankah sebaliknya cinta adalah alasan kita mengejar cita-cita? Ternyata Paulo Coelho memandangnya dari sisi lain: bahwa kita manusia tidak rela kehilangan hal-hal yang kita cintai.

Misalkan saja, untuk mengejar cita-cita tersebut, Anda harus pergi merantau selama sepuluh tahun dan meninggalkan keluarga dan teman-teman di kampung halaman. Itu sesuatu yang berat. Atau misalnya Anda sedang berkuliah di kampung halaman Anda (maksudnya rumah dan universitas berada dalam satu kota) dan Anda bercita-cita untuk meningkatkan kegiatan non-akademik Anda. Sudah barang tentu Anda akan mengambil waktu lebih dan sering pulang malam. Tegakah Anda meninggalkan Ibu sendiri di rumah? Atau Anda mungkin harus meninggalkan istri dan anak di Indonesia selama dua tahun untuk mengejar cita-cita Anda berkuliah S2 atau S3 di Eropa? Ya, walaupun terdengar ‘kurang sedap’, cinta adalah hal yang akan menghalangi kita mengejar mimpi.

3. “Fear of the defeats we will meet on the path.”

Mari katakan kita telah berani mengambil resiko: meninggalkan hal-hal yang kita cintai untuk mengejar mimpi. Namun, kita masih akan  mendapatkan tantangan. Takut menghadapi cobaan yang datang. Siapapun yang berusaha mendapat cita-cita mereka, tentu harus berkorban lebih. Mari katakan seorang pemuda dari daerah yang pergi ke kota untuk mengejar cita-cita untuk menjadi seorang insinyur. Berat sangat pasti meninggalkan keluarga di desa untuk mengejar mimpi. Tapi, setelah berharu-haru karena tidak lagi tinggal bersama keluarga, seorang tersebut dihadapkan tantangan tugas, kuliah, finansial, dan lain-lain. Untuk apa sih sebenarnya seseorang mengejar mimpi bila yang didapatkan hanyalah kesengsesaraan belaka? Well, itu tergantung dari seberapa besar mimpi kita dibandingkan dengan jerih payah yang harus dilakukan.

Dan, akhirnya, adalah obstacle terakhir yang bisa membuat kita gagal meraih mimpi kita:

4. “The fear of realizing the dream for which we fought all our lives.”

Kata-katanya memang agak rancu. Namun artinya begini: kadangkala seseorang yang sudah sangat dekat dengan mimpinya berpikir “ah, saya ga pantas meraih ini.” Ya, intinya, kita kembali meragukan apakah mimpi kita benar-benar mimpi kita saat kita sudah dekat dengannya. Kita mulai ragu – seperti seorang wanita yang ragu dengan calon suaminya saat akan melangsungkan akad pernikahan. Tidak hanya itu, mungkin saat kita hampir mencapai puncak, kita melihat kawan-kawan kita yang tertinggal di belakang dan berpikir kita tidak mau meninggalkan mereka, sehingga kita tidak jadi menuju puncak.

//

Tidak merupakan suatu kesalahan bila Anda tidak mengejar mimpi Anda, itu pilihan hidup Anda. Begitu banyak orang di dunia ini tidak mengambil S2 di luar negeri karena tidak mau meninggalkan keluarga di Indonesia. Begitu banyak orang di sekitar kita yang tidak mau mendapat lebih karena takut akan jalan yang ditempuh. Seorang teman di himpunan mahasiswa jurusan tempat saya berkuliah menolak untuk berusaha menjadi ketua himpunan untuk merubah himpunannya menjadi lebih baik. Alasannya: takut pihak oposisi menyerangnya selama kepengurusannya seandainya terpilih. Dan itu tidak salah – itu pilihan.

//

Akhir kata, saya merujuk pada buku The Alchemist, bahwa segala sesuatu di hidup ini adalah pilihan. Sangat tidak salah bila Anda tidak mengejar mimpi Anda. Dan belum tentu Anda benar saat Anda mengejarnya namun meninggalkan cinta Anda di belakang. Semua adalah pilihan, dan setiap pilihan ada konsekuesinya.

Semoga sharing saya berguna,

Semoga memberi manfaat 🙂

*catatan

Ini semua hanya berdasarkan sebuah novel. Sekali lagi: ini belum tentu benar. Namun bagi saya: ini menarik 🙂


Manusia

Saya adalah manusia yang membagi dua cara berpikir – logika dan emosi.
Dan berdasarkan hidup saya yang baru seumur jagung, saya memiliki dua buah kesimpulan mengenai hidup berdasarkan cara pikir saya.

Satu: manusia adalah aset paling berharga dalam setiap kegiatan; aset paling vital dan menguntungkan, karena ilmu dan pendidikan hanya bisa dimasukkan ke dalam otak manusia – bukan komputer atau kalkulator, bukan pula pada besi atau batu bara.

Dua: manusia adalah hal yang paling dicintai; tiada mau manusia menukar seorang sahabat dengan istana, seorang kekasih dengan matahari, atau bapa dan ibu dengan sebuah negara.

//

Uang dan benda adalah sesuatu untuk digunakan. Manusia adalah sesuatu untuk dicintai. Jangan sampai tertukar.

//


Filosofi Gunung

//

Entah saya sempat mendengarnya dari seorang teman, entah saya mendengar sedikit lalu membiarkan pikiran saya membuat imaji, atau murni sebuah pikiran yang turun dari langit layaknya wangsit. Ini mengenai Filosofi Gunung. Yah, saya memang suka dengan analogi.

//

Banyak dari orang-orang di sekitar saya, terutama teman-teman saya di ITB, mulai memikirkan tentang rencana hidup. Berikut ucapan teman saya (yang saya lupa siapa) saat obrolan santai di sekretariat himpunan jurusan di ITB yang sudah saya modifikasi supaya lebih mudah dicerna:

“Sampai dengan kemarin (tingkat 3), kita ini seperti air pada aliran sungai, mengikuti arus. Sekarang (tingkat 4) kita berada di muara. Kita akan bertemu laut dan ini adalah kewajiban kita sebagai bagian dari aliran air untuk memilih: arus mana yang akan kita ikuti setelah kita berada di laut. Gambarannya kira-kira seperti ini (secara umum): waktu TK kita tahu mau masuk SD mana. Waktu SD kita tahu mau masuk SMP mana. Waktu SMA kita harus milih: IPA, IPS, atau bahasa. Dan iklim pendidikan di Indonesia masih mengatakan bahwa IPA adalah yang terbaik (walaupun belum tentu demikian), sehingga, mereka yang saat kelas dua SMA belum memiliki minat yang jelas kemungkinan akan memilih IPA. Saat kuliah, beberapa sudah punya pilihan. Mereka yang masih bingung simply memilih lembaga pendidikan tinggi yang cukup prestise. Jurusan mengikuti. Tapi sekarang, arus mulai menyebar. Aliran makin tenang. Dan kita harus memilih ke mana kita akan berjalan. Pengusaha, karyawan swasta, PNS, mengambil S2, menikah, mengambil fast track, semua pilihan kita. Tidak ada yang lebih baik, tidak ada yang lebih keren. Semua sama.”

Jadi mungkin inilah gambaran kegalauan yang sedang dialami saya dan banyak teman-teman saya yang sekarang berada di tingkat 4, yang notabene akan lulus lebih-kurang satu tahun lagi.

//

Planning one’s life is like planning a journey to conquer a mountain.

Hidup ini perlu tujuan, visi. Sama seperti kalau kita hendak naik gunung: kita harus tahu dulu gunung apa yang akan kita taklukkan.

Jadi, entah ini apa, saya hanya ingin berbagi mengenai pandangan saya dalam merencakan kehidupan (tidak berarti saya sudah memiliki perencanaan yang matang ya) bukan berarti saya mengkuliahi, ini hanya pandangan saya.

//

1. TENTUKAN GUNUNG APA YANG AKAN DIDAKI

Bagaimana kita bisa mencapai sukses kalau kita bahkan tidak tau apa itu sukses untuk kita? Bagaimana kita bisa mencapai puncak kalau kita bahkan tidak tahu gunung apa yang akan kita daki? Know your passion. Dan khusus untuk hal ini, hanya kita sendiri yang tahu apa passion kita. Orang lain hanya dapat memberikan saran berdasarkan pandangan subjektif mereka. Beberapa bilang “ngapain lo ke Everest? Mendingan juga ke Aconcagua! Ga banyak orang pernah ke sana!”; “Ngapain lo ke Burangrang? Mending ke Gede-Pangrango sekalian!” Sekali lagi: hanya kita yang bisa menjawab ini.

2. KENALI GUNUNGNYA

Anda yakin gunung itu lah yang ingin Anda taklukkan? Tidak salah informasi? Anda yakin Everest berada di Nepal bukan dataran tinggi Tibet di China? Anda yakin Gunung Ciremai adalah benar yang paling tinggi di Jawa Barat? Anda yakin Gunung Jaya Wijaya berada di Provinsi Papua bukan Papua Barat? Anda yakin seorang pengusaha cukup mengerti soal finance? Anda yakin bahwa PNS itu hidupnya pasti miskin? Just make sure that the information you’ve gathered is right. Or You’ll end up chasing a wrong bus.

3. KETAHUI DI MANA ANDA SEKARANG

Jangan mengejar tanpa persiapan; Ketahui dulu batasan diri sendiri. Jangan berjalan ke utara kalau gunungnya ternyata di selatan. Jangan bekerja di bidang desain interior kalau memang Anda ingin menjadi ahli nuklir (saya hanya mengasumsikan nuklir dan interior tidak ada hubungannya sama sekali untuk mempermudah penjelasan).

4. SUDAH PUNYA PETA?

Kalau Anda sudah pernah ke gunung itu dan Anda memulai dari titik yang sama dengan perjalanan yang sebelumnya, mungkin jalan yang akan ditempuh belum banyak berubah. Tapi sudah rule of thumb bahwa kalau kita naik gunung ya kita harus punya petanya, untuk mengetahui kondisi geografis, menentukan rute, dll. Hidup ini cuma sekali. Mustahil kita mencapai tujuan yang sama dua kali mengingat bahwa hidup ini jalan terus dan tidak pernah berputar kembali. Sudah pasti tujuan Anda itu belum pernah Anda kunjungi. Anda mau jadi pengusaha lele tapi tidak tau siapa saja stakeholders di bidang usaha lele? Anda mau membangun parpol tapi belum tahu parpol apa saja yang sudah ada?

5. PICK A ROUTE

Gunung Tangkuban Perahu yang terkenal di Jawa Barat saja menyediakan banyak jalur agar pengunjung bisa melihat kawahnya meskipun mereka memulai dari titik yang berbeda. Pengunjung tinggal memilih jalur yang paling cocok dengan keadaan mereka. Menjadi Presiden Republik Indonesia pun bisa diawali dari kuliah di bidang teknik sipil, atau dengan menjadi tentara, atau dengan kuliah di teknik penerbangan, atau dengan menjadi seorang tokoh Islam, dll. Walaupun rute mereka berbeda, dengan kemampuan yang memang di atas rata-rata, para mantan Presiden Republik Indonesia memiliki latar belakang yang berbeda-beda.

6. PACKING

Kalau memang ingin jadi chef, mungkin lebih baik kalau di rumah punya dapur. Kalau memang ingin jadi gitaris, akan lebih baik kalau di rumah punya gitar. Kalau ingin ke Agropuro, akan lebih baik kalau sudah bawa tenda dan perbekalan. Kalau mau ke Burangrang dari Bandung, bawa air minum satu liter saja cukup. Ya, jangan cuma berani naik gunung bermodalkan semangat, jangan lupa belajar dan mengepak bekal barang-barang yang akan berguna.

7. JALAN!

Dan semua yang sudah kita rencanakan tidak akan ada hasilnya kalau tidak kita kerjakan.

Ngomong-ngomong, kalau memang masih tidak tahu juga gunung apa yang ingin Anda daki, keep walking. Mungkin sambil jalan Anda akan menemukan sebuah gunung cantik yang menggugah hati, daripada Anda diam di kamar merenung menetukan gunung dan lama-lama Anda mati.

//

Ada kalanya ketika mendaki gunung, puncak dari gunung tersebut tidak dapat terlihat. Seringkali kita di kala puncak tidak terlihat, lalu kita disibukkan dengan kendala yang ada di hadapan kita, kita malah lupa dengan gunung apa yang sedang kita daki. Saat berjalan, fokus kita hanya pada 3 hal:

a. GUNUNG

Jangan lupa dengan gunung yang sedang kita daki. Jangan lupa dengan cita-cita yang sedang kita coba raih. Sesulit apapun jalan yang kita tempuh, STICK TO THE PLAN!

b. RUTE

Ingat-ingat rute yang sedang ditempuh, jangan sampai salah jalan dan membawa kita makin jauh dari tujuan. Jangan karena iming-iming uang banyak, wanita cantik, atau mobil mewah, kita jadi merelakan passion kita dan membawa kita jauh dari tujuan. Tapi ingat juga: Nabi Muhammad SAW menghidari Makkah dahulu dan berhijrah ke Madinah agar beliau dapat menghimpun kekuatan untuk tetap mengsyiarkan Islam. Rute boleh berubah, tapi tidak dengan tujuan.

c. KEADAAN SEKITAR

Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah pertama. Ya, yang membawa kita ke gunung itu adalah setiap langkah kita. Dan setiap langkah kita harus memperhatikan keadaan sekitar. Jangan melangkah dengan polos kalau di depan ada harimau. Jangan melangkah dengan tegap kalau di depan jurang. Jangan hanya memikirkan puncak, karena apa yang kita hadapi sehari-hari adalah keadaan sekitar.

//

Ya, mungkin itu adalah sedikit pikiran saya mengenai cara membuat rencana dalam hidup. Bukan bermaksud mengkuliahi, saya hanya ingin berbagi pandangan saya mengenai perencanaan kehidupan. Saya sendiri, merujuk pada tulisan saya di atas, saya masih belum mengenal tujuan saya dengan baik. Saya belum tahu rute yang ingin saya ambil. Sejauh ini saya masih berjalan mengikuti arus.

Sekali lagi, tulisan ini hanya untuk berbagi pandangan. Terima kasih sudah membaca, semoga berguna 🙂